Amazon Contextual Product Ads

Sabtu, 05 November 2011

LAPORAN ANALISIS PAUD DI KB UMP DUKUHWALUH

LAPORAN PENELITIAN DAN ANALISIS

PENGEMBANGAN KEGIATAN ANAK USIA DINI MENCOBA DAN MENCERITAKAN

APA YANG TERJADI BILA BENDA-BENDA DIDEKATKAN DENGAN MAGNET DI

KELOMPOK BERMAIN UMP DUKUHWALUH KECAMATAN KEMBARAN

KABUPATEN BANYUMAS


 

Laporan ini disusun untuk memenuhi Tugas mata kuliah Analisis

Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD 4504)

Program S1 PAUD FKIP Universitas Terbuka


Disusun Oleh :

Nama    :    Nelly Fauziyati

NIM    :    815202169

Pokjar    :    PURBALINGGA


 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH

UNIVERSITAS TERBUKA

PURWOKERTO

2011

ABSTRAK


 

Penelitian ini berjudul Analisis Pengembangan Kemampuan Kognitif Pada Anak Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembelajaran mencoba menceritakan apa yang terjadi bila benda-benda didekatkan dengan magnet pada Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas.

Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitannya menyimpulkan bahwa Kelompok Bermain mempunyai program mengembangkan kemampuan memahami konsep sains sederhana dengan mengamati, menyelidiki dan melakukan percobaan benda-benda didekatkan dengan magnet dan menceritakan apa yang terjadi sehingga anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban yang ada di dunia sekitar secara alami. Kegiatan tersebut dapat merangsang perkembangan sosial, emosional, fisik motorik, kognitif, kreativitas dan berpikir kritis.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disarankan agar kepala sekolah dan guru senantiasa mengembangkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep-konsep sains sejak dini melalui pengamatan dan percobaan dengan magnet sehingga dapat menstimulasi kegiatan belajar kognitif dan dapat merangsang aspek perkembangan sosial emosional dan kreativitas sehingga anak akan selalu berpikir kritis.

DAFTAR ISI


 

HALAMAN SAMPUL         i

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN         ii

ABSTRAK         iii

KATA PENGANTAR         iv

DAFTAR ISI         v

DAFTAR LAMPIRAN         vi

BAB I    PENDAHULUAN         1

  1. Latar Belakang Masalah         1
  2. Fokus Penelitian         3
  3. Tujuan Penelitian         3
  4. Manfaat Penelitian         3

BAB II    LANDASAN TEORI         4

  1. Kerangka Teori         4
    1. Pengertian Kemampuan         4
    2. Pengertian Kognitif         5
  2. Kerangka Berpikir         7

BAB III    METODOLOGI PENELITIAN         8

  1. Subyek Penelitian         8
  2. Metode Penelitian         8
  3. Instrumen Penelitian         8

BAB IV    ANALISIS DATA         10

  1. Tabulasi Data         10
  2. Hasil Analisis         13
  3. Analisis Kritis         15

BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN         17

  1. Kesimpulan         17
  2. Saran         17

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN


 

DAFTAR LAMPIRAN


 

Lampiran A : Instrumen Wawancara

  1. Instrumen Wawancara dengan Pendidik         18
  2. Instrumen Wawancara dengan Pimpinan Kelompok Bermain         19

Lampiran B : Instrumen Hasil Wawancara

  1. Instrumen Hasil Wawancara dengan Pendidik         20
  2. Instrumen Hasil Wawancara dengan Pimpinan Kelompok Bermain         21

Lampiran C : Dokumentasi         22


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Bab II Pasal 3 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan yang luar biasa itu tentunya akan terwujud manakala dilakukan usaha yang terprogram dengan baik, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Salah satu usaha untuk mencapai hal di atas adalah melalui kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kita mengembangkan potensi anak didik mestinya sedini mungkin. Di tingkat non formal pengembangan potensi anak didik diawali pada Kelompok Bermain. Salah satu materi yang digunakan untuk mengembangkan potensi anak didik adalah bidang pengembangan kognitif.

Karena luasnya bidang kognitif penulis memfokuskan pada bidang kognitif materi/ indikator MENCOBA DAN MENCERITAKAN APA YANG TERJADI JIKA BENDA-BENDA DIDEKATKAN DENGAN MAGNET. Pada Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas dalam kegiatan mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet semua anak berminat. Harapan peneliti/observer guru/pendidik dalam memberikan bimbingan lebih dioptimalkan.

Program S1 PAUD Universitas Terbuka menargetkan lulusannya menjadi tenaga pendidik yang profesional yaitu yang dapat mengembangkan program PAUD dan membuat inovasi-inovasi, salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa adalah Analisis Program Pengembangan Anak Usia Dini.

Dalam rangka memenuhi tugas-tugas dalam mata kuliah tersebut telah dilakukan penelitian di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas yang bertujuan mengumpulkan data mengenai kegiatan-kegiatan anak yang dianggap perlu diteliti lebih lanjut untuk selanjutnya dianalisis secara kritis.


 

  1. Fokus Penelitian

Setelah diadakan observasi di salah satu ruang Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas maka penelitian ini terfokus pada salah satu kegiatan anak sehingga dapat ditemukan hipotesis yaitu : "Pengembangan kemampuan kognitif pada anak Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas dalam kegiatan mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet melalui bimbingan guru".


 

  1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

  1. Mengumpulkan data mengenai :
    1. Alasan pendidik melakukan pembelajaran mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet.
    2. Tujuan pendidik melakukan pembelajaran tersebut.
    3. Seberapa kadar keberhasilan guru dalam mengembangkan kemampuan tersebut.
  2. Menyusun hasil penelitian secara representatif.
  3. Membuat analisis kritis mengenai pembelajaran mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet..


     

  1. Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai manfaat yang sangat baik diantaranya :

  1. Memberi masukan terhadap pemangku kepentingan di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas dalam upaya mengembangkan potensi anak didik.
  2. Melatih penulis melalukan observasi dan wawancara dalam rangka mengumpulkan, menganalisis dan menyusun laporan hasil penelitian.
  3. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisa suatu kegiatan anak di lembaga PAUD.


 

BAB II

LANDASAN TEORI


 

  1. Kerangka Teori
    1. Pengertian Kemampuan

      Kemampuan adalah kesanggupan melakukan sesuatu. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1976, W.J.S. Poerwadarminta)

      Pendidikan anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan ketrampilan pada anak. (Masithoh, Strategi Pembelajaran, 1.9). Kegiatan di TK dilakukan melalui bermain sambil belajar sehingga kemampuan dan ketrampilan anak akan berkembang dengan sendirinya.

      Pembelajaran bagi anak usia dini termasuk Taman Kanak-Kanak mengutamakan kebebasan tersendiri. Kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak mengutamakan bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Secara alamiah bermain memotivasi anak untuk mengembangkan kemampuannya. Bermain merupakan warahan yang penting untuk perkembangan sosial, ekonomi dan kognitif anak yang direfleksikan pada kegiatan. (Bredecamp, 1997)

      Setiap anak mempunyai kemampuan tak terbatas dalam belajar (Limited Capacity To Learn) yang inherent (telah ada) dalam diri anak untuk berpikir kreatif dan produktif. Oleh karena itu anak memerlukan program pendidikan yang mampu membuka kapasitas tersembunyi tersebut (Unlocking The Capacity) melalui pembelajaran bermakna sedini mungkin. Apabila potensi pada diri anak tidak pernah dikembangkan maka berarti anak tersebut telah kehilangan peluang dan momentum penting dalam hidupnya dan pada gilirannya negara akan kehilangan sumber daya manusia terbaiknya.

      Dalam konteks seperti itulah peranan pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian serius. (Pengelolaan Kegiatan Anak Usia Dini, Liluk Asmawati, dkk. 2.121).

      Selain itu menurut para ahli sedini mungkin orang tua atau para pendidik anak usia dini dapat mengasah rasa keindahan dan kemampuan seni anak agar anak-anak usia dini tersebut dapat memiliki kemampuan seni sejak usia dini.

      Kemampuan anak usia dini untuk merasakan dan melakukan berbagai ketrampilan atau kemampuan sehingga dapat ditimbulkan dan dikembangkan sejak dini melalui pelatihan dan bimbingan yang terarah sambil disesuaikan dengan karakteristik belajar anak usia dini yaitu bermain. (Syaodih, Agustin M, Bimbingan Konseling untuk Anak Usia Dini, 2.26).

      Plato mengemukakan pendapatnya bahwa seni adalah ketrampilan memproduksi sesuatu. Jadi apa yang disebut seni adalah suatu tiruan.

      Pengembangan kemampuan seni bertujuan agar anak dapat dan mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan dan menghargai hasil karya yang kreatif.

    2. Pengertian Kognitif

      Menurut Brian Cambourne (1988) anak akan berhasil dalam mempelajari literasi apabila terdapat kondisi-kondisi belajar sebagai berikut: Yuliani Nurani Sujiono, dkk pada "Metode pengembangan kognitif", Pusat Penerbitan UT menjelaskan bahwa potensi kognitif ditentukan pada saat pembuahan, namun terwujud tidaknya potensi kognitif tergantung dari lingkungan dan kesempatan yang diberikan.

      Kognitif adalah suatu proses berpikir yaitu kemampuan individu untuk melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya sehingga dapat daya persepsinya berdasarkan apa yang ia lihat, dengar dan rasakan sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh.

      Proses kognitif tergantung dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang mencirikan seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar.

      Pamela Milet mendefinisikan bahwa perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran ialah bagian dari proses berpikir dari otak. Pikiranlah yang digunakan untuk mengenali, memberi alasan rasional, mengatasi dan memahami sesuatu. Setiap hari pemikiran anak akan berkembang ketika mereka belajar dengan orang-orang yang ada disekitamya belajar berkomunikasi dan mencoba mendapatkan pengalaman yang banyak.

      Santrock (2001) mengatakan bahwa kognitif diartikan sebagai kemampuan verbal, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan_ untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.

      Dalam kaitan ini ada dua istilah yang memiliki kemiripan ucapan sering dipergunakan dalam keseharian yakni intelek dan intelegensi.

      Menurut Yuliana Nurani supono, dkk. yang dimaksud dengan intelek adalah berpikir sedangkan yang dimaksud dengan intelegensi adalah kemampuan kecerdasan.

      Jean Peaget. (1983) mengatakan bahwa kegiatan belajar memerlukan kesiapan dari dalam diri anak. Artinya belajar adalah suatu proses membutuhkan aktifitas baik fisik/psikis yang disesuaikan dengan perkembangannya.

      Menurut Patmodewono, (2000) kognitif adalah pengertian yang luas mengenai cara berpikir dan mengamati. Jadi merupakan tingkah laku yang mengakibatkan seseorang memperoleh pengetahuan atau menggunakan pengetahunan yang diperolehnya.

      Menurut Supriyati, eksperimen atau percobaan adalah kegiatan yang didalamnya dilakukan percobaan dengan cara mengamati proses dan hasil dari percobaan tersebut. Sedangkan metode eksperimen adalah metode mengajar dengan melakukan percobaan lalu mengamati proses dan hasil percobaan yang dilakukan anak bersama guru yang pada akhirnya anak bisa melakukan secara sendiri tanpa diperintahkan oleh.

      Harlan dan Hendrick, 1997 mengatakan bahwa melalui strategi pemecahan masalah anak-anak merencanakan, meramalkan, mengamati hasil-hasil tindakannya dan merumuskan kesimpulan dari hasil-hasil tindakannya.


       

  2. Kerangka Berpikir

    Untuk memperjelas dan mempermudah alur pikir tentang pengembangan kemampuan kognitif anak melalui pembelajaran mencoba menceritakan apa yang terjadi bila benda-benda didekatkan dengan magnet, maka kami sajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

Gambar : Bagan Kerangka Berpikir

Pengembangan kognitif pada anak Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas melalui pembelajaran mencoba dan menceritakan apa yang terjadi bila benda-benda didekatkan dengan magnet memerlukan fasilitas yang memadai serta bimbingan dan latihan yang rutin.


 


 


 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


 

  1. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian ini adalah anak-anak, Pendidik dan Pimpinan Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.


     

  2. Metode Penelitian

    Penelitian ini menggunakan metode interpretatif yaitu menginterpretasikan data mengenai fenomena/gejala yang diteliti di lapangan.


     

  3. Instrumen Penelitian

    Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini :

    1. Observasi

      Observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan informasi dengan cara mengamati perilaku anak dalam situasi tertentu. Observasi dalam penelitian dilaksanakan dalam satu kali pertemuan, selama dua jam pelajaran yaitu pada tanggal 11 Oktober 2011. Penelitian menggunakan teknik observasi untuk memperoleh data yang berkaitan dengan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung melalui pembelajaran memcoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet.

    2. Wawancara

      Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang bisa digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai fokus penelitian. Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pendidik dan Pimpinan Sekolah untuk memperoleh data tentang peningkatan hasil belajar kemampuan kognitif anak melalui pembelajaran memcoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet.

    3. Dokumentasi

      Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data atau bukti-bukti serta penjelasan yang lebih luas mengenai fokus penelitian. Dokumen digunakan dengan tujuan mencari data yang berasal dari dokumen, wawancara dan catatan yang ada hubungannya dengan objek penelitian sebagai sumber data.


       


 

BAB IV

ANALISIS DATA


 

  1. Tabulasi Data

Untuk memudahkan analisis data maka data hasil penelitian dibuat tabulasi sebagai berikut :


 


 

 


 

Observasi

Wawancara dengan Guru

Wawancara dengan Pimpinan KB

Dokumentasi

  • Guru menyiapkan benda-benda yang dapat didekatkan dengan magnet sebagai alat peraga edukatif.
  • Guru di KB UMP Dukuhwaluh senantiasa mengembangkan pembelajaran untuk memahamkan konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan yang dilakukan dengan bermain.
  • Kegiatan itu akan memungkinkan anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban yang ada di dunia sekitar sehingga anak dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  • Kepala KB UMP memahami bahwa dengan mengembangkan kemampuan dalam memahami konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan benda-benda didekatkan ke magnet maka anak akan menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial, perkembangan emosional fisik, kognitif dan kreativitas serta anak akan selalu berpikir kritis.
  • Dalam SKH tertulis anak mengamati, guru mendemontrasikan benda-benda didekatkan ke magnet.
  • Anak-anak mengamati benda-benda yang akan digunakan untuk eksperimen.
  • Magnet dan benda-benda yang akan dipakai dalam percobaan tersebut sebagai pendukung. Metode eksperimen membantu anak dalam memahami penjelasan guru yang dilakukan dengan menarik.
  • Kami lebih menekankan pada pengembangan potensi anak sejak dini. Semuanya kami rancang sedemikian rupa sehingga anak bukan hanya sekedar bermain tetapi terarah pada suatu pencapaian perkembangan yang optimal.
  • Dalam dokumen pendirian KB UMP Dukuhwaluh bahwa salah satu tujuan pendiriannya adalah mengembangkan kemampuan dasar anak yang salah satunya adalah kemampuan kognitif.
  • Guru mendemonstrasikan magnet didekatkan dengan salah satu benda dan anak mengamati kemudian menceritakan apa yang terjadi.
  • Setelah itu anak mencoba kemudian menceritakan apa yang terjadi terhadap benda yang didekatkan ke magnet.
  • Pertama, untuk mengembangkan kemampuan fisik motorik khususnya motorik halus anak dapat memegang benda kecil dengan koordinasi mata dan tangannya.
  • Kedua, mengembangkan kemampuan berpikir atau kognitif diantaranya anak mengenal sifat magnet yaitu menarik benda yang terbuat dari logam seperti paku, peniti dan besi. Juga tahu benda yang tidak bisa ditarik oleh magnet seperti kayu, pensil dan penghapus. Anak dapat menganalisa dan membuat kesimpulan.
  • Ketiga, mengembangkan kemampuan bahasa dengan menceritakan kembali apa yang telah diperbuatnya pada saat percobaan.
  • Keempat, mengembangkan seni dan kreativitas dengan mencoba berbagai benda.
  • Kelima, mengembangkan sosial emosional karena anak merasa senang melakukan percobaan secara bergantian menggunakan magnet.
  • Keenam, mengembangkan moral agama karena mengembangkan disiplin, menjaga kebersihan dan ketertiban, membereskan kembali alat pada tempatnya semula.
  • Kami berkeinginan agar anak mendapat pendidikan yang benar sejak dini sehingga anak akan lebih mendiri sedini mungkin dan berkembang potensinya sesuai perkembangan usianya.
  • Dalam SKH tertulis bahwa pendidik menggunakan metode demontrasi, bercerita, tanya jawab dan eksperimen.
  • Di dinding kelas banyak ditempel gambar dengan tulisan dibawahnya mengenai gambar tersebut dan ada juga alat edukatif yang lain.
  • Banyak cara lain yang digunakan untuk melatih motorik halus : anak kami ajak bermain plastisin, menggambar, mewarnai, menggunting, menempel dan sebaginya. Kami menempelkan gambar hasil kegiatan tersebut di dinding berikut tulisannya. Beberapa diantaranya buatan guru.
  


 


 

 

  1. Hasil Analisis

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh penulis pada saat penelitian maka diperoleh hasil dalam kegiatan mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet yang dilakukan pada Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas adalah sebagai berikut :

Di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan menyiapkan benda-benda yang akan digunakan seperti paku, besi, peniti, steples, penghapus, pensil, kertas dan peggaris. Satu anak memegang magnet dan yang lain memegang peniti. Peniti didekatkan ke magnet. Anak memperhatikan apa yang terjadi dan menceritakannya. Demikian bergantian dengan benda yang berbeda. Anak mengelompokan benda yang menempel di magnet dan benda yang tidak menempel di magnet. Dengan bimbingan guru anak membuat kesimpulan bahwa benda yang dapat ditarik oleh magnet adalah benda yang terbuat dari logam atau mengandung unsur besi.

Hasil wawancara dengan pendidik bahwa guru telah mengembangkan konsep sains sederhana yaitu mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet. Anak dapat berpikir analisis dan membuat kesimpulan. Anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa, seni, kreativitas, sosial emosional dan moral agama. Kegiatan itu dilakukan dengan cara bermain yang memungkinkan anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban tentang kenyataan yang ada di sekitar sehingga anak dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Guru melakukan kegiatan lain yang berguna untuk melatih motorik halus anak diantaranya bermain plastisin, menggambar, mewarnai, menggungting dan menempelkan gambar hasil karya di dinding.

Hasil wawancara dengan pimpinan Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas bahwa mereka berkeyakinan dengan mengembangkan kemampuan dalam memahami konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan benda-benda didekatkan ke magnet maka anak akan menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial, perkembangan emosional fisik, kognitif dan kreativitas serta anak akan selalu berpikir kritis. Semuanya kami rancang sedemikian rupa sehingga anak bukan hanya sekedar bermain tetapi terarah pada suatu pencapaian perkembangan yang optimal sehingga anak akan lebih mendiri sedini mungkin dan berkembang potensinya sesuai perkembangan usianya.

Jadi, analisis data diperoleh dari data yang terkumpul melalui observasi, wawancara dengan pendidik dan pimpinan KB dan dokumentasi pada saat penulis melakukan penelitian dan disusun menjadi tabulasi data. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Hasil data yang telah dicapai oleh siswa melalui observasi dalam pembelajaran eksperimen benda-benda didekatkan dengan magnet yang dilakukan di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas.


 

  1. Analisis Kritis

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan mencoba dan menceritakan apa yang tejadi jika benda-benda didekatkan kepada magnet merupakan suatu kegiatan yang bertujuan mengembangkan kemampuan kognitif. Pengembangan kemampuan kognitif anak di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas merupakan kegiatan mengembangkan kemampuan yang tercantum dalam dokumen pendirian Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas tersebut.

Di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas guru melakukan kegiatan pembelajarn dengan menyiapkan benda-benda yang akan digunakan anak mengelompokan benda yang dapat menempel ke magnet atau sebaliknya. Dari kegiatan tersebut anak menyusun kesimpulan : benda yang dapat ditarik oleh magnet adalah benda yang terbuat dari logam atau mengandung unsur besi.

Guru di Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas telah mengembangkan konsep sains sederhana. Anak dapat berpikir analisis dan membuat kesimpulan, anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa, seni, kreativitas, sosial emosional dan moral agama. Kegiatan itu dilakukan dengan cara bermain yang memungkinkan anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban tentang kenyataan yang ada di sekitar sehingga anak dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sesuai dengan pendapat Harlan dan Hendrick (1997) mengatakan bahwa melalui strategi pemecahan masalah anak merencanakan, meramalkan, mengamati hasil tindakannya dan merumuskan kesimpulan dari hasil tindakannya.

Pimpinan Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas mengembangkan kemampuan dalam memahami konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan benda-benda didekatkan ke magnet maka anak akan menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial, perkembangan emosional fisik, kognitif dan kreativitas serta anak akan selalu berpikir kritis.

Sesuai dengan pendapat Supriyati, eksperimen atau percobaan adalah kegiatan yang didalamnya dilakukan percobaan dengan cara mengamati proses dan hasil dari percobaan tersebut. Sedangkan metode eksperimen adalah metode mengajar dengan melakukan percoban lalu mengamati proses dan hasil percobaan yang dilakukan anak bersama guru sehingga anak dapat melakukannya sendiri.

Di dinding kelas Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas terdapat banyak gambar tertempel yang dibawahnya terdapat tulisan mengenai gambar tersebut. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brian Camhourne (1988).

Secara umum Kelompok Bermain UMP Dukuhwaluh Kembaran Banyumas telah mempunyai kegiatan-kegiatan yang baik dan terarah. Kegiatan-kegiatan tersebut telah disusun sedemikian rupa dan sejalan dengan teori-teori dalam bidang pengembangan kognitif sehingga kemungkinan anak dapat mencapai hasil yang diharapkan sangat besar yaitu dalam pengembangan potensi anak sejak dini dapat mencapai perkembangan yang optimal.


 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


 

  1. Kesimpulan

Dari tabulasi dan analisis data dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut :

  1. Kelompok Bermain mempunyai program mengembangkan kemampuan memahami konsep sains sederhana dengan mengamati, menyelidiki dan melakukan percobaan benda-benda didekatkan dengan magnet dan menceritakan yang terjadi sehingga anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban yang ada di dunia sekitar secara alamiah.
  2. Anak mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika benda-benda didekatkan dengan magnet yang dilakukan dengan suasana senang. Berarti anak mampu melakukan eskplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca indera. Anak secara bergantian menggunakan alat dan mampu membereskan kembali ke tempat semula.
  3. Kegiatan tersebut dapat merangsang perkembangan sosial, emosional, fisik motorik, kognitif, kreativitas dan berpikir kritis.


 

  1. Saran-Saran

Hendaknya guru senantiasa mengembangkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep-konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan dan percobaan dengan magnet, dapat menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial emosional, kreativitas sehingga anak akan selalu berpikir kritis.


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Aisyiyah, Siti, dkk. 2007. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Gunarti, Windia, dkk. 2008. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Redaksi Sinar Grafika. 2003. Undang-Undang Sisdiknas 2003 UU RI No. 20 Th. 2003. Jakarta : Sinar Grafika.

Sujiono, Yuliani Nuraeni, dkk. 2005. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta : Universitas Terbuka.

Tim PG PAUD Universitas Terbuka. 2008. Analisa Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

LAMPIRAN

LAMPIRAN A

INSTRUMEN WAWANCARA


 

  1. Instrumen Wawancara Dengan Pendidik.
  2. Instrumen Wawancara Dengan Pimpinan KB UMP Dukuhwaluh.

INSTRUMEN WAWANCARA DENGAN PENDIDIK


 

  1. Apa keistimewaan program di Kelompok Bermain yang Ibu asuh dibandingkan dengan Kelompok Bermain yang lain?
  2. Media dan metode apa yang digunakan untuk mendukung percobaan tersebut?
  3. Apa tujuan Ibu mengembangkan kemampuan memahami konsep sains sederhana sejak dini pada anak?


 

INSTRUMEN WAWANCARA DENGAN PIMPINAN

KB UMP DUKUHWALUH KEMBARAN BANYUMAS


 

  1. Apa keistimewaan program Kelompok Bermain yang Ibu pimpin dibandingkan dengan Kelompok Bermain yang lain?
  2. Apa yang lebih diutamakan atau ditekankan pada kegiatan percobaan tersebut?
  3. Apa keinginan Ibu mengadakan kegiatan percobaan tersebut?


 

LAMPIRAN B

INSTRUMEN HASIL WAWANCARA


 

  1. Instrumen Hasil Wawancara Dengan Pendidik.
  2. Instrumen Hasil Wawancara Dengan Pimpinan KB UMP Dukuhwaluh.

HASIL WAWANCARA DENGAN PENDIDIK

KB UMP DUKUHWALUH KEMBARAN BANYUMAS


 

  1. Kepala KB UMP memahami bahwa dengan mengembangkan kemampuan dalam memahami konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan benda-benda didekatkan ke magnet maka anak akan menstimulasi kegiatan belajar kognitif, dapat merangsang aspek perkembangan sosial, perkembangan emosional fisik, kognitif dan kreativitas serta anak akan selalu berpikir kritis.
  2. Kami lebih menekankan pada pengembangan potensi anak sejak dini. Semuanya kami rancang sedemikian rupa sehingga anak bukan hanya sekedar bermain tetapi terarah pada suatu pencapaian perkembangan yang optimal.
  3. Kami berkeinginan agar anak mendapat pendidikan yang benar sejak dini sehingga anak akan lebih mendiri sedini mungkin dan berkembang potensinya sesuai perkembangan usianya.


 

HASIL WAWANCARA DENGAN PIMPINAN

KB UMP DUKUHWALUH KEMBARAN BANYUMAS


 

  1. Guru di KB UMP Dukuhwaluh senantiasa mengembangkan pembelajaran untuk memahamkan konsep sains sederhana sejak dini melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan yang dilakukan dengan bermain. Kegiatan itu akan memungkinkan anak aktif mencari tahu atau menemukan jawaban yang ada di dunia sekitar sehingga anak dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Magnet dan benda-benda yang akan dipakai dalam percobaan tersebut sebagai pendukung. Metode eksperimen membantu anak dalam memahami penjelasan guru yang dilakukan dengan menarik.
  3. Pertama, untuk mengembangkan kemampuan fisik motorik khususnya motorik halus anak. Kedua, mengembangkan kemampuan berpikir atau kognitif. Ketiga, mengembangkan kemampuan bahasa dengan menceritakan kembali apa yang telah diperbuatnya. Keempat, mengembangkan seni dan kreativitas dengan mencoba berbagai benda. Kelima, mengembangkan sosial emosional. Keenam, mengembangkan moral agama.
  4. Banyak cara lain yang digunakan untuk melatih motorik halus : anak kami ajak bermain plastisin, menggambar, mewarnai, menggunting, menempel dan sebaginya. Kami menempelkan gambar hasil kegiatan tersebut di dinding berikut tulisannya.

LAMPIRAN C

DOKUMENTASI


 

  1. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran Mencoba dan Menceritakan Apa Yang Terjadi Bila Benda-Benda Didekatkan Dengan Magnet.


 

DOKUMENTASI


 


Guru menjelaskan magnet didekatkan dengan benda.


Anak bermain magnet


Anak praktek mendekatkan magnet dengan benda.


Anak membuat kesimpulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar